Tue. Jun 23rd, 2026

Gorontalo resmi memisahkan diri dari Provinsi Sulawesi Utara pada tahun 2000. Provinsi yang dijuluki “Serambi Madinah” ini terletak di bagian utara Pulau Sulawesi. Gorontalo memiliki sejarah panjang berupa persekutuan lima kerajaan adat persaudaraan yang disebut Pohala’a (Suwawa, Limboto, Gorontalo, Bolango, dan Atinggola).

Kebudayaan dan Filosofi Hidup

Masyarakat asli daerah ini adalah Suku Gorontalo (Hulontalo). Kebudayaan Gorontalo sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam yang berasimilasi dengan tatanan adat lokal secara selaras.

  • Filosofi Adat Bersendikan Syara’, Syara’ Bersendikan Kitabullah: Seluruh tatanan hukum adat yang berlaku di Gorontalo wajib berlandaskan pada syariat Islam, dan syariat Islam bersumber langsung dari Al-Qur’an. Jika ada tradisi kuno yang bertentangan dengan agama, maka tradisi tersebut akan ditinggalkan.

Adat Istiadat yang Terkenal

  • Tradisi Tumbilotohe (Malam Pasang Lampu): Tradisi menyalakan lampu minyak tradisional secara massal menjelang akhir bulan Ramadan (tepatnya pada malam ke-27 hingga malam terakhir). Jutaan lampu botol berbahan bakar minyak tanah dipasang di halaman rumah, jalanan, ladang, hingga membentuk formasi dekorasi masjid yang indah. Tradisi ini awalnya berfungsi untuk menerangi jalan warga yang hendak pergi membayar zakat fitrah dan beriktikaf di masjid.
  • Prosesi Adat Pernikahan (Payuungga): Pernikahan adat Gorontalo sangat sakral dan memiliki tahapan yang diatur ketat oleh lembaga adat. Tahapannya dimulai dari Mopotilolo (penjemputan adat), hingga penggunaan pakaian adat pernikahan megah bernama Bili’u untuk pengantin wanita (melambangkan sifat kesucian dan tanggung jawab) dan Paluwala untuk pengantin pria.
  • Upacara Adat Pulanga: Upacara pemberian gelar adat penghormatan kepada seseorang (tokoh masyarakat atau pejabat negara) yang dinilai memiliki jasa besar dan kelakuan yang terpuji selama masa hidup atau masa jabatannya. Gelar adat ini melekat seumur hidup dan dijaga kesuciannya.

Kesenian dan Warisan Budaya

  • Sulaman Karawo (Kerawang Gorontalo): Warisan budaya takbenda khas Gorontalo berupa seni menyulam kain yang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi. Proses pembuatannya unik: benang-benang pada kain dasar harus dicabut terlebih dahulu satu per satu sesuai ukuran motif untuk membuat rongga, kemudian rongga tersebut diikat dan disulam kembali dengan benang polos atau warna-warni hingga membentuk motif flora atau geometris yang indah.
  • Tari Dana-Dana: Tarian pergaulan tradisional Gorontalo yang mendapat pengaruh kuat dari budaya Melayu dan Arab. Tarian ini dibawakan dengan gerakan kaki dan tangan yang lincah, riang, dan dinamis, biasanya diiringi oleh petikan alat musik gambus serta tabuhan rebana, dan lirik lagu berisi sanjungan atau dakwah Islam.
  • Rumah Adat Dulohupa: Rumah panggung tradisional Gorontalo yang digunakan sebagai balai musyawarah adat kerabat kerajaan. Struktur rumah adat ini memiliki atap berbentuk pelana ganda dan ditopang oleh pilar-pilar kayu miring di bagian depannya, melambangkan prinsip keterbukaan, keadilan, dan kesepakatan mufakat masyarakat Hulontalo.

By azizah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *