Tue. Jun 23rd, 2026

Provinsi Kalimantan Selatan (Ibu Kota: Banjarbaru)

Kalimantan Selatan merupakan salah satu provinsi di Pulau Kalimantan yang memiliki sejarah panjang sebagai pusat Kesultanan Banjar, sebuah kerajaan Islam besar yang menguasai jalur perdagangan lada di masa lampau. Pada tahun 2022, ibu kota provinsi ini resmi dipindahkan dari Kota Banjarmasin ke Kota Banjarbaru.

Secara geografis, wilayah ini dibelah oleh ratusan aliran sungai, sehingga Banjarmasin (kota terbesarnya) sangat terkenal dengan julukan “Kota Seribu Sungai”. Selain itu, daerah ini dianugerahi kekayaan alam berupa pegunungan Meratus yang menyimpan keanekaragaman hayati dan budaya pedalaman yang eksotis.

Kebudayaan dan Sistem Sosial

Mayoritas penduduk asli provinsi ini adalah Suku Banjar, yang terbagi menjadi tiga sub-suku berdasarkan wilayah tempat tinggalnya: Banjar Kuala (daerah pesisir/sungai), Banjar Batang Banyu (sepanjang sungai pedalaman), dan Banjar Pahuluan (daerah kaki pegunungan). Di samping itu, terdapat pula masyarakat Suku Dayak Meratus yang mendiami kawasan pegunungan.

  • Budaya Sungai yang Kuat: Kehidupan bermasyarakat di Kalimantan Selatan tidak bisa dipisahkan dari sungai. Sungai adalah tempat rekreasi, sarana transportasi, hingga pusat roda ekonomi. Lanskap pemukiman tradisional berupa rumah-rumah panggung di atas air (Floating houses) menceritakan bagaimana masyarakat Banjar beradaptasi dengan pasang surut air selama berabad-abad.
  • Religiusitas yang Tinggi: Masyarakat Banjar dikenal sangat religius dan memegang teguh nilai-nilai Islam. Hal ini terlihat dari banyaknya pondok pesantren, pengaruh hukum Islam dalam adat lokal, serta penghormatan yang luar biasa terhadap para ulama besar (seperti Datu Kalampayan dan Guru Sekumpul).

Adat Istiadat yang Terkenal

Tradisi dan hukum adat di Kalimantan Selatan mencerminkan perpaduan antara kearifan lokal dalam mengelola alam dan nilai-nilai spiritual:

  • Pasar Terapung (Muara Kuin & Lok Baintan): Ini adalah tradisi dagang di atas perahu tradisional (jukung) yang sudah berlangsung sejak zaman Kesultanan Banjar. Para pedagang yang mayoritas adalah perempuan (Acil-acil) menjual hasil kebun, kue tradisional, dan tangkapan ikan sejak subuh. Di sini, sistem barter (bapandukan) terkadang masih berlaku di antara para pedagang.
  • Adat Pernikahan Banjar (Baayun Mulud & Penganten Banjar): Sebelum resepsi pernikahan, terdapat tradisi ritual seperti Badudus atau Bapandukan (mandi suci membersihkan diri dari nasib buruk). Saat resepsi, pengantin akan mengenakan pakaian adat megah seperti Bagajah Gamuling Baular Lulut yang bertabur ronce bunga melati segar dan anyaman daun kelapa (janur).
  • Maruhum / Haulan: Tradisi memperingati hari wafatnya tokoh agama, keluarga, atau leluhur dalam skala besar yang dihadiri oleh ribuan hingga jutaan jemaah (seperti Haul Guru Sekumpul di Martapura), yang merekatkan tali silaturahmi dan gotong royong masyarakat.

Kesenian dan Warisan Budaya

  • Kain Sasirangan: Kain tenun/pamor tradisional khas suku Banjar. Pembuatannya menggunakan teknik tusuk jelujur, diikat dengan tali raffia, kemudian dicelup pewarna pakaian. Dahulu, Sasirangan digunakan sebagai kain adat penyembuhan (bapapas) untuk mengobati penyakit atau mengusir roh jahat, di mana warna kain menentukan jenis penyakit yang diobati. Kini, Sasirangan menjadi kebanggaan fesyen modern Kalsel.
  • Madihin: Kesenian sastra lisan berupa puisi atau pantun jenaka berima yang dinyanyikan oleh satu atau dua orang (Pamadihinan) sambil memukul alat musik perkusi sejenis rebana bernama Terbang. Madihin berfungsi sebagai media hiburan, kritik sosial, maupun penyampai pesan pembangunan.
  • Tari Baksa Kembang: Tarian klasik keraton Banjar yang dibawakan oleh penari wanita untuk menyambut tamu agung. Penari menari dengan lemah gemulai sambil membawa rangkaian bunga bogam (melati dan mawar) yang nantinya akan dihadiahkan kepada tamu sebagai simbol penghormatan dan doa selamat.
  • Rumah Adat Bubungan Tinggi: Arsitektur rumah tradisional Banjar yang paling utama. Berbentuk panggung kokoh dengan ciri khas atap bagian tengah yang menjulang tinggi dan curam (bubungan tinggi). Rumah ini dahulu merupakan tempat tinggal para raja atau sultan, dengan ukiran kayu ulin bermotif tumbuhan khas yang sarat makna filosofis.

By azizah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *