
Provinsi Nusa Tenggara Barat (Ibu Kota: Mataram)
Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah sebuah provinsi kepulauan yang terletak di bagian barat Kepulauan Nusa Tenggara. Wilayah ini secara garis besar terbagi menjadi dua pulau utama yang memiliki karakteristik alam dan budaya yang kontras, yaitu Pulau Lombok di bagian barat dan Pulau Sumbawa di bagian timur.
Lombok terkenal dengan keindahan pantai, gugusan pulau kecil (gili), serta kemegahan Gunung Rinjani (gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia). Sementara Sumbawa didominasi oleh bentang alam sabana yang luas, teluk-teluk yang dalam, serta sejarah letusan dahsyat Gunung Tambora.
Kebudayaan dan Tiga Suku Utama (Sasambo)
Kebudayaan di NTB dibentuk secara harmonis oleh tiga suku bangsa asli yang mendiami wilayah tersebut, yang sering disingkat dengan akronim Sasambo:
- Suku Sasak: Suku mayoritas yang mendiami Pulau Lombok. Kebudayaan Sasak sangat dipengaruhi oleh asimilasi nilai-nilai Islam tardisional (seperti ajaran Wetu Telu di masa lalu) serta kedekatan geografis dan historis dengan kebudayaan Bali.
- Suku Samawa: Suku asli yang mendiami wilayah barat hingga tengah Pulau Sumbawa. Kebudayaan Samawa kental dengan pengaruh adat Kesultanan Sumbawa dan bernuansa Melayu-Islam.
- Suku Mbojo: Suku asli yang mendiami wilayah timur Pulau Sumbawa (Bima dan Dompu). Suku Mbojo memiliki sejarah peradaban Islam maritim yang sangat kuat melalui Kesultanan Bima.
Adat Istiadat yang Terkenal
Setiap suku di NTB memiliki tradisi unik yang berkaitan dengan siklus alam, ketangkasan, dan sistem sosial pernikahan:
- Tradisi Bau Nyale (Lombok): Upacara adat tahunan suku Sasak yang digelar di pesisir pantai selatan Lombok (biasanya di Pantai Seger, Kuta). Masyarakat akan berkumpul pada dini hari untuk menangkap Nyale (cacing laut warna-warni) yang muncul massal setahun sekali. Menurut legenda setempat, nyale-nyale ini adalah penjelmaan dari Putri Mandalika, seorang putri berparas jelita yang mengorbankan dirinya terjun ke laut demi menghindari perang saudara antar-pangeran yang memperebutkannya.
- Adat Pernikahan Merarik (Sasak): Sistem pernikahan adat suku Sasak yang unik, di mana calon pengantin pria akan “melarikan” (merarik) atau menculik calon pengantin wanita dari rumahnya pada malam hari atas persetujuan bersama tanpa diketahui orang tua wanita. Keesokan harinya, pihak pria akan mengirim utusan adat (selabar) untuk memberi tahu keluarga wanita bahwa anaknya telah dilarikan untuk dinikahi secara adat.
- Pacuan Kuda Joki Cilik (Main Jaran) di Sumbawa: Tradisi balap kuda tradisional khas Pulau Sumbawa yang sangat ikonik. Uniknya, kuda-kuda tangguh setempat dipacu oleh anak-anak berusia 5 hingga 10 tahun (Joki Cilik) tanpa menggunakan pelana (hanya selembar kain). Tradisi ini menguji keberanian, ketangkasan, dan harmoni antara anak dengan kudanya.
Kesenian dan Warisan Budaya
- Kain Tenun Ikat dan Songket (Tenun Sasak & Tenun Mbojo): NTB sangat kaya akan kerajinan wastra tradisional. Desa Sukarara dan Pringgasela di Lombok terkenal dengan Songket Sasak yang ditenun secara manual menggunakan benang emas atau perak dengan motif sarat makna seperti Subahnale. Di Sumbawa dan Bima, kain tenun khasnya disebut Tembe Nggoli (sarung tenun khas Mbojo) yang memiliki motif garis-garis geometris penuh warna yang khas.
- Tari Gandrung Sasak: Tarian pergaulan tradisional di Lombok yang dibawakan oleh penari wanita yang menari sambil membawa kipas. Penari kemudian akan memilih salah satu penonton pria dari kalangan hadirin untuk diajak menari bersama secara berpasangan (ngibing). Tarian ini melambangkan suka cita, persahabatan, dan kebersamaan.
- Rumah Adat Bale Tani & Dalam Loka: Bale Tani adalah rumah adat suku Sasak yang beratap jerami tebal menyentuh tanah, dengan keunikan lantainya yang terbuat dari campuran tanah liat dan kotoran kerbau (berfungsi menguatkan lantai dan mengusir serangga). Sementara di Pulau Sumbawa terdapat Dalam Loka, istana kayu raksasa megah milik Kesultanan Sumbawa yang dibangun tanpa menggunakan paku besi tunggal pun, melainkan mengandalkan sistem pasak kayu.